Di Sidosermo, Kecamatan Wonocolo Surabaya, Erni Yuliatin, seorang Ibu rumah tangga memulai paginya dengan mengantar anak-anak, menjemput, kembali memasak, merapikan rumah, lalu mengatur waktu agar tetap bisa mendampingi putrinya yang penyandang tuna rungu, Asiyifa Khoirunnisa kemanapun ia pergi. Ibu yang menginjak usia 42 tahun itu, memiliki ketenangan hidup yang tidak dibuat-buat, lahir dari perjalanan panjang menerima, memahami, dan mencintai anak berkebutuhan khusus.
Asyifa, yang Desember ini berusia 14 tahun, adalah satu dari tiga anak Erni. Ia terlahir dengan ketunarunguan. Namun keterbatasan itu tidak mengambil seluruh panggung hidupnya. Yang tampak dari Asyifa justru keinginannya mencoba hal-hal baru, semangatnya mengikuti kegiatan komunitas, dan kecintaan pada gerak tubuh yang kelak mempertemukan dia dengan dunia drama.
Hari Minggu malam pada (07/12/2025) itu, Asyifa bersiap tampil sebagai Emban Putri Citrawati dalam sebuah pertunjukan drama wayang orang dengan judul “Arutala Sukrasana Disabilitas Sang Pemungkas” yang digelar komunitas Mata Hati. Baju hijau yang dihiasi warna emas yang melekat di tubuhnya tampak seperti kostum megah saat ia bergerak pelan menirukan arahan pelatih. Gerakannya mantap, penuh fokus; dua hal yang membuat Erni selalu terharu.
“Alhamdulillah, senang sekali,” kata Erni, suaranya bergetar kecil. “Biar dia punya pengalaman, biar dia berani rasanya tampil di depan orang.” ujar bu Erni.
Kemampuan Asyifa dalam tampil di depan umum sebenarnya bukan hal yang tiba-tiba lahir. Ia pernah tampil menyanyi dengan bahasa isyarat dalam kegiatan RAP Bisindo beberapa tahun silam. Namun tampil di drama panggung adalah hal yang baru untuk Asyifa.
Latihannya pun tak lama. Hanya lima kali pertemuan, yakni dua kali di basecamp komunitas Matahati, dua kali di gedung BK3S Tenggilis Surabaya, dan satu kali gladi di lokasi acara. Di rumah, latihan hanya seperlunya. “Biasa saja,” kata Erni sambil tertawa kecil.
Yang tidak “biasa” justru adalah upaya panjang Erni mendampingi anaknya. Sejak mengetahui Asyifa tunarungu, hari-harinya dipenuhi kecemasan yang butuh waktu untuk dijinakkan. “Yang pertama itu rasanya berat sekali,” ujarnya. “Tidak semua orang mengerti, tidak semua orang menerima keadaan Asyifa.” imbuhnya dengan suara pelan.
Namun dari kesulitan itu, Erni belajar tiga hal yang ia sebut sebagai “kunci hidup” yakni kesabaran, semangat, dan tidak putus asa, “Itu prinsip saya ketika membesarkan Asyifa” ucapnya penuh keyakinan sambil memegang tangan Asyifa.
Ketiga hal tersebut selalu ia genggam erat, terutama ketika Asyifa tantrum, atau saat sekolah terasa terlalu penuh tantangan. Ia juga sering berdiskusi dengan guru-guru Asyifa, bertukar cerita dengan orang tua lain, dan menguatkan diri lewat pengajian. Dukungan suami dan ibunya juga menjadi pondasi yang membuatnya tetap bertahan.
Masuknya Asyifa ke komunitas Mata Hati memberi warna baru dalam hidupnya. Di sana, ia bertemu banyak teman dengan latar belakang disabilitas yang berbeda-beda, belajar bersama, dan saling memberi ruang. Bagi Erni, komunitas itu bukan sekadar tempat kegiatan, melainkan ruang yang memperluas dunia putrinya. “Banyak sekali membantu,” ujarnya. “Pengalaman, interaksi, dan semangat dari orang tua lain. Saya jadi merasa tidak sendiri.” imbuhnya sambil tersenyum.
Seperti ibu lainnya, Erni menyimpan doa dan harapan yang sederhana untuk anaknya “Semoga Asifa jadi anak yang bermanfaat, mandiri, dan punya akhlak yang baik.”. Erni pun merasa selalu bangga dan sangat mendukung dengan apapun yang dilakukan Asyifa untuk mengembangkan bakatnya di setiap harinya.
dan ketika diminta menggambarkan Asyifa dalam satu kalimat, Erni terdiam sebentar sebelum menjawab. “Asyifa itu anak yang unik,” katanya perlahan. “Dia harus selalu didorong, dibimbing, dan yang penting dia bisa mandiri dan bermanfaat bagi banyak orang.” imbuhnya yang diselipkan harapan untuk anak tuna rungu tercintanya.