Pendekatan Persuasif Sekolah Tingkatkan Penerimaan Program Makan Bergizi Gratis di Sukoharjo

Pendekatan Persuasif Sekolah Tingkatkan Penerimaan Program Makan Bergizi Gratis di Sukoharjo
Kepala PAUD Anak Hebat Kartasura, Cita Restuningrum, mengungkapkan bahwa pada tahap awal pelaksanaan program sempat muncul kekhawatiran dari sebagian orang tua siswa.
Pendekatan Persuasif Sekolah Tingkatkan Penerimaan Program Makan Bergizi Gratis

Sukoharjo, AADToday – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terus menunjukkan perkembangan positif di berbagai daerah. 

Di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, penerimaan terhadap program tersebut meningkat melalui pendekatan komunikasi yang terbuka antara pihak sekolah dan orang tua murid. Pengalaman ini dirasakan langsung oleh PAUD Anak Hebat Kartasura yang menjadi salah satu penerima manfaat program MBG.

Kepala PAUD Anak Hebat Kartasura, Cita Restuningrum, mengungkapkan bahwa pada tahap awal pelaksanaan program sempat muncul kekhawatiran dari sebagian orang tua siswa.

Untuk mengetahui secara pasti pandangan para orang tua, pihak sekolah kemudian menyebarkan angket kepada wali murid mengenai persetujuan mereka terhadap pelaksanaan program MBG di sekolah.

“Kami menanyakan secara terbuka kepada orang tua, apakah setuju atau tidak anaknya diberikan MBG. Dari hasil angket tersebut, sekitar 70 persen orang tua masih belum setuju,” jelas Cita.

Ia mengatakan keraguan tersebut banyak dipengaruhi oleh informasi yang beredar di masyarakat mengenai kasus makanan basi maupun keracunan yang sempat menjadi perhatian publik.

Alih-alih memaksakan pelaksanaan program, pihak sekolah memilih membangun komunikasi yang lebih terbuka dengan para orang tua. Pendekatan persuasif dianggap sebagai langkah terbaik agar orang tua dapat memahami secara langsung manfaat serta mekanisme pelaksanaan program MBG.

“Nah, akhirnya saya menyampaikan kepada orang tua bagaimana kalau kita mencoba dulu selama satu minggu,” ujarnya.

Selama masa percobaan tersebut, makanan dari program MBG tetap dibagikan kepada siswa di sekolah. Namun, makanan tersebut tidak harus langsung dikonsumsi oleh anak-anak apabila orang tua belum memberikan izin. Sebagai alternatif, makanan dapat dibawa pulang ke rumah agar orang tua dapat melihat secara langsung menu serta kualitas makanan yang diberikan.

Selain itu, komite sekolah yang terdiri dari perwakilan wali murid juga dilibatkan untuk memantau pelaksanaan program secara langsung. Mereka dapat melihat proses distribusi makanan serta menu yang disajikan kepada siswa setiap hari.

Setelah satu minggu masa percobaan berlangsung, pihak sekolah kembali meminta tanggapan dari para orang tua mengenai kelanjutan program tersebut. Hasilnya menunjukkan perubahan yang cukup signifikan.

“Setelah satu minggu kami tanyakan kembali kepada orang tua, akhirnya mereka menerima. Mereka melihat sendiri bahwa makanan yang diberikan aman,” kata Cita.

Menurutnya, keberhasilan pendekatan tersebut menunjukkan pentingnya komunikasi terbuka antara sekolah dan orang tua dalam pelaksanaan program pendidikan maupun program sosial lainnya.

Selain membantu pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak, Cita menilai program MBG juga memiliki nilai edukatif. Melalui program tersebut, anak-anak mulai dikenalkan dengan berbagai jenis makanan bergizi serta dibiasakan menjalani pola makan sehat sejak usia dini.

“Nah, itu yang menjadi tantangan bagi guru. Bagaimana caranya supaya anak mau mencoba makan, walaupun mungkin hanya satu atau dua suap,” jelasnya.

 

Ikuti AAD Today Online di GoogleNews

#AAD Today

Index

Berita Lainnya

Index