Hadapi Krisis Global, Akademisi Dorong Ekspansi Lahan Sawah untuk Perkuat Swasembada
Jawa Barat - Wakil Dekan Fakultas Pertanian Universitas Galuh, Rian Kurnia memberikan pandangan terkait arah kebijakan pangan nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Ia menilai bahwa percepatan swasembada pangan harus menjadi prioritas strategis di tengah ketidakpastian krisis global yang berdampak pada rantai pasok dan stabilitas harga pangan dunia.
“Pembukaan lahan sawah baru yang diimbangi dengan teknologi smart farming adalah kunci Indonesia tidak lagi bergantung pada impor” ujarnya dikutip Selasa (26/2/26).
Rian menilai, agenda besar swasembada pangan tidak akan tercapai secara maksimal tanpa langkah berani dalam melakukan ekstensifikasi lahan, yakni pembukaan lahan sawah baru guna mengimbangi laju alih fungsi lahan yang semakin masif di berbagai daerah.
Ia memaparkan bahwa pembukaan lahan sawah baru merupakan kebutuhan mendesak untuk menjamin ketersediaan stok pangan nasional di masa depan.
Pertumbuhan populasi yang terus meningkat, lanjutnya, menuntut adanya perluasan area produksi secara signifikan agar ketahanan pangan tetap terjaga.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kebijakan pembukaan lahan tidak boleh dilakukan secara serampangan.
“Dibukanya peluang pembukaan wilayah pertanian baru di wilayah Indonesia sangatlah bagus. Namun, ada tantangan yang harus dihadapi seperti sarana prasarana harus memadai, karena perbedaan topografi, iklim, tanah, berpengaruh pada proses keberlanjutannya” ujar Rian.
Lebih jauh, Rian memandang bahwa lahan sawah baru tersebut harus menjadi lokomotif implementasi pertanian modern.
Pendekatan ini dinilai strategis untuk menarik minat generasi milenial dan Gen-Z agar terjun ke sektor pertanian.
“Generasi muda sekarang harus melek teknologi, jika mengandalkan generasi petani tua akan susah untuk berinovasi terhadap perkembangan teknologi.” ujar Wakil Dekan Fakultas Pertanian Universitas Galuh, Rian Kurnia.
Ia menambahkan, transformasi sektor pertanian membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk peran aktif perguruan tinggi dalam riset dan pendampingan teknologi.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, generasi muda/petani milenial jangan hanya mengandalkan program, tetapi harus memiliki tanggung jawab untuk bisa berinovasi. Syukur-syukur menciptakan teknologi baru” Lanjutnya.
Rian meyakini, dengan penambahan luas baku sawah yang dikombinasikan dengan sentuhan teknologi riset terbaru, ketergantungan terhadap impor pangan dapat ditekan secara bertahap.
Dengan sinergi pemerintah, akademisi, dan generasi muda, percepatan swasembada pangan bukan sekadar wacana, melainkan langkah nyata menuju Indonesia Emas 2045.