Akademisi Nilai UMKM Berperan Strategis dalam Menopang Ketahanan Ekonomi Nasional

Akademisi Nilai UMKM Berperan Strategis dalam Menopang Ketahanan Ekonomi Nasional
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (UNS), Dr. Putra Pamungkas, S.E., M.Rech., Ph.D.
Akademisi UNS Soroti Pentingnya Digitalisasi untuk Perkuat Daya Saing UMKM

Surakarta - Di tengah tekanan ekonomi global dan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, penguatan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dinilai menjadi salah satu strategi penting untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional. Selain dukungan pembiayaan dan kebijakan pemerintah, digitalisasi dan sinergi antarpemangku kepentingan disebut sebagai faktor kunci agar UMKM Indonesia mampu tumbuh lebih kuat, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Pandangan tersebut disampaikan oleh Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (UNS), Dr. Putra Pamungkas, S.E., M.Rech., Ph.D., yang menilai bahwa tantangan ekonomi global saat ini justru menjadi momentum untuk mempercepat transformasi UMKM. Menurutnya, UMKM tidak boleh hanya bertahan, tetapi juga harus naik kelas agar mampu menjadi kekuatan utama dalam menjaga stabilitas ekonomi rakyat.

“Kondisi global saat ini memang tidak mudah. Kita melihat adanya tekanan ekonomi dunia dan pelemahan nilai tukar Rupiah. Namun saya melihat Indonesia memiliki peluang besar karena UMKM kita sangat banyak dan dekat dengan kebutuhan masyarakat. Yang perlu diperkuat sekarang adalah bagaimana UMKM bisa semakin produktif, modern, dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas,” ujar Putra.

Ia menjelaskan bahwa salah satu langkah paling penting dalam penguatan UMKM adalah digitalisasi. Menurutnya, perkembangan teknologi telah membuka peluang besar bagi pelaku usaha untuk memperluas pasar tanpa terbatas oleh wilayah geografis.

“Mengapa digitalisasi sangat penting? Karena dengan digitalisasi, UMKM tidak hanya menjual produknya secara lokal, tetapi bisa menjangkau pasar nasional bahkan internasional. Teknologi membuka akses pasar yang jauh lebih luas dibandingkan sebelumnya,” katanya.

Putra menilai bahwa digitalisasi tidak hanya berkaitan dengan pemasaran, tetapi juga menyangkut efisiensi usaha secara keseluruhan. Pelaku UMKM kini dapat memanfaatkan berbagai platform digital untuk promosi, penjualan, pengelolaan keuangan, hingga membangun hubungan yang lebih dekat dengan konsumen.

“Teknologi membantu UMKM menjadi lebih efisien. Promosi lebih mudah, komunikasi dengan konsumen lebih dekat, dan pengelolaan usaha juga bisa lebih baik. Ini sangat penting agar UMKM mampu bersaing di tengah perubahan ekonomi yang cepat,” jelasnya.

Menurut Putra, pemerintah selama ini telah menunjukkan komitmen yang cukup konsisten dalam mendukung transformasi UMKM. Selain program Kredit Usaha Rakyat (KUR), berbagai pelatihan kewirausahaan dan program digitalisasi terus didorong untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha.

Ia menilai langkah tersebut penting karena banyak pelaku UMKM yang sebenarnya memiliki produk berkualitas, tetapi masih menghadapi keterbatasan dalam akses pasar dan pemanfaatan teknologi.

“Banyak UMKM kita yang produknya bagus, tetapi belum semua mampu memanfaatkan teknologi secara optimal. Karena itu pendampingan dan pelatihan tetap diperlukan agar mereka bisa berkembang lebih cepat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Putra menekankan bahwa penguatan UMKM tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah semata. Dibutuhkan sinergi multipihak yang melibatkan akademisi, dunia usaha, perbankan, dan masyarakat.

Menurutnya, setiap pihak memiliki peran yang saling melengkapi dalam membangun ekosistem UMKM yang kuat dan berkelanjutan.

“Penguatan UMKM membutuhkan sinergi. Tidak cukup hanya pelaku usahanya saja. Pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan perbankan harus bergerak bersama agar pondasi ekonomi rakyat semakin kuat,” katanya.

Dari sisi akademisi, perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui riset, pendampingan, dan program pengabdian masyarakat. Sementara dunia usaha dapat membantu melalui pelatihan, kemitraan, dan transfer pengetahuan kepada pelaku UMKM.

Perbankan juga memiliki peran strategis dalam menyediakan akses pembiayaan, layanan keuangan, dan dukungan terhadap perluasan pasar. Dengan kolaborasi yang baik, pelaku UMKM diharapkan tidak hanya bertahan, tetapi mampu berkembang menjadi usaha yang lebih produktif dan kompetitif.

Putra menilai bahwa penguatan UMKM juga memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar pertumbuhan ekonomi. Keberhasilan UMKM akan berkontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja, pengurangan pengangguran, peningkatan pendapatan masyarakat, serta penguatan stabilitas sosial.

“Dukungan terhadap UMKM bukan hanya soal ekonomi semata. Ini juga berkaitan dengan penciptaan lapangan kerja, kesejahteraan masyarakat, dan stabilitas sosial. Karena itu penguatan UMKM harus menjadi agenda bersama,” ungkapnya.

Di tengah pelemahan nilai tukar Rupiah, keberadaan UMKM yang kuat dinilai dapat membantu menjaga perputaran ekonomi domestik dan mengurangi dampak tekanan eksternal terhadap masyarakat. Semakin banyak UMKM yang tumbuh dan berkembang, semakin kuat pula ketahanan ekonomi rakyat dalam menghadapi gejolak global.

Putra optimistis bahwa dengan dukungan kebijakan pemerintah dan sinergi seluruh pemangku kepentingan, UMKM Indonesia akan mampu menjadi basis ketahanan ekonomi nasional yang semakin kokoh.

“Saya optimistis, apabila sinergi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, perbankan, dan masyarakat terus diperkuat, maka UMKM Indonesia akan semakin maju dan mampu menjadi fondasi utama dalam memperkuat ekonomi nasional di tengah dinamika global dan tekanan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa penguatan UMKM juga akan membantu mengurangi ketergantungan terhadap produk impor dan memperbesar kontribusi ekonomi domestik. Dengan demikian, ekonomi nasional akan menjadi lebih tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan global di masa mendatang.

“Penguatan UMKM bukan hanya menjaga ekonomi hari ini, tetapi juga membangun fondasi ekonomi Indonesia ke depan agar lebih mandiri, lebih kuat, dan lebih berkelanjutan,” tutup Putra.

Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia, digitalisasi dan sinergi multipihak menjadi kunci agar UMKM Indonesia mampu terus tumbuh dan menjadi penopang utama ketahanan ekonomi nasional. Dengan dukungan yang tepat, UMKM diyakini tidak hanya mampu bertahan dari tekanan pelemahan Rupiah, tetapi juga menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Ikuti AAD Today Online di GoogleNews

#Ekonomi

Index

Berita Lainnya

Index