Film adaptasi terbaru Sense and Sensibility resmi tayang di bioskop Amerika Serikat mulai Jumat (16/10/2026). Menjelang penayangan, jajaran pemerannya, termasuk Daisy Edgar-Jones dan Frank Dillane, membeberkan sejumlah perubahan cerita dari novel Jane Austen terbitan 1811 yang menjadi sumber adaptasi film garapan sutradara Georgia Oakley tersebut.
Hal itu disampaikan para pemeran dalam wawancara eksklusif bersama E! News. Perubahan yang dibahas mencakup tambahan dua adegan dansa hingga alur skandal tokoh John Willoughby yang berbeda dari versi novel, sehingga menjadi perhatian para penggemar Austen yang selama ini mengenal kisah keluarga Dashwood lewat buku maupun adaptasi sebelumnya.
Daisy Edgar-Jones, pemeran Elinor Dashwood, menyebut tambahan dua adegan dansa sebagai salah satu perubahan terbaik. Adegan pertama menampilkan Marianne, yang diperankan Esmé Creed-Miles, berdansa penuh energi dan sentuhan bersama Willoughby yang diperankan Frank Dillane. Adegan kedua mempertemukan Elinor dengan Edward Ferrars yang diperankan George MacKay.
"Sekarang ada dansa antara Willoughby dan Marianne, yang aslinya di buku adalah piknik. Tapi yang saya suka dari dijadikannya dansa adalah itu menciptakan semacam percakapan antara romansa Willoughby dan Marianne dengan romansa Edward dan Elinor," ujar Edgar-Jones.
Menurut dia, adegan dansa Marianne dan Willoughby yang lebih meriah menggambarkan rasa cinta pertama secara nyata.
"Ini semacam representasi nyata tentang bagaimana rasanya cinta pertama. Ada putaran dan angkatan, rasanya seru, memabukkan, dan menyenangkan, dan ada banyak sekali hentakan kaki. Terasa begitu pas untuk gejolak awal sebuah romansa," tuturnya.
Sebaliknya, dansa antara Elinor dan Edward berlangsung lebih lembut dan muncul setelah Edward mengungkapkan pertunangannya dengan Lucy Steele. Edgar-Jones menggambarkan adegan itu sebagai sebuah perpisahan.
"Ada banyak gerakan di antara kami di mana tangan hampir bersentuhan, tapi tidak. Itu seolah menceritakan bahwa mereka sebenarnya bisa punya masa depan bersama, tetapi mungkin sekarang tidak lagi. Saya suka dinamika itu. Saya suka perubahan-perubahan kecil itu karena benar-benar menyuntikkan sesuatu yang baru ke dalam film," kata aktris yang dikenal lewat serial Normal People tersebut.
Perubahan yang lebih besar terjadi pada kisah jatuhnya reputasi John Willoughby. Frank Dillane menilai perubahan itu justru memperlihatkan bahwa tokoh yang ia perankan bukan penjahat sejati, meski meninggalkan Marianne dalam keadaan patah hati.
"Kami menceritakan kisah yang sedikit berbeda di naskah dibandingkan bukunya, dan itu perlu ditekankan. Bukan anak asuh Brandon yang berselingkuh dengan Willoughby, melainkan janda dari saudara laki-laki Brandon. Dan Willoughby dengan jelas tidak tahu apa yang terjadi selama ia tidak ada. Kalau ia tahu, ia tidak akan bersikap seperti itu," jelas Dillane.
Meski begitu, Dillane berseloroh penonton tetap bebas menilai pengakuan tokoh tersebut. "Tentu saja Anda boleh menanggapinya dengan skeptis, mau percaya padanya atau tidak," ucapnya.
Aktor yang pernah membintangi Fear the Walking Dead itu menegaskan ia ingin penonton melihat sisi lain dari sosok Willoughby.
"Saya mencoba memerankan seorang pemuda yang berbuat kesalahan, seseorang yang sangat mencintai Marianne. Saya melihat Willoughby sebagai tokoh tragis yang sebenarnya bisa berbuat lebih baik. Peran saya adalah mengkhianati Marianne, memerankan kekasih yang tidak bisa diandalkan, tetapi saya berusaha membawa sebanyak mungkin puisi, semangat, cahaya, dan keceriaan ke dalam karakter itu, lalu membiarkan tindakannya berbicara sendiri," paparnya.
Dillane mengaku tidak akan merampas kebencian penonton terhadap Willoughby. Namun, ia tetap bersimpati pada situasi yang dihadapi tokoh tersebut.
"Saya melihatnya sebagai orang yang terbangun di tengah kecelakaan mobil dan sadar ia harus menyusun kembali hidupnya secepat mungkin, lalu melakukan yang terbaik yang ia bisa, yang tidak selalu cukup baik," ungkapnya.
Herbert Nordrum, pemeran Kolonel Brandon, menilai kedalaman karakter tersebut tidak lepas dari pendekatan sang sutradara.
"Saya rasa Georgia Oakley sangat fokus menjadikan setiap karakter sebagai manusia yang utuh, dengan kekurangan, kekuatan, dan segala hal yang datang bersama menjadi seorang manusia," kata Nordrum.
Penggambaran manusia secara utuh itu, menurut para pemeran, paling terasa pada tokoh kakak-beradik Elinor dan Marianne, yang selama ini kerap dipisahkan dalam kotak "akal sehat" dan "perasaan".
"Saya benar-benar terkesan dengan visi Georgia Oakley untuk film ini, bagaimana ia ingin melihat versi keluarga Dashwood yang terasa sangat mentah, membumi, dan agak berantakan dengan cara yang sangat indah, serta benar-benar menjadikan persaudaraan dan kisah cinta di antara dua perempuan itu sebagai alur utama film. Saya merasa ia benar-benar berhasil mewujudkannya," ujar Edgar-Jones.
Aktris berusia 28 tahun itu juga menilai kekuatan film ini terbantu oleh materi sumber yang tak lekang zaman. Semakin banyak ia melihat dunia, kata dia, semakin yakin pula bahwa tulisan Austen tetap relevan.
"Yang ditulis Austen adalah tentang pengalaman manusia. Karena itu, setiap kelompok orang baru yang membuat dan menghidupkan buku-bukunya, lewat keunikan individu yang membuatnya serta konteks saat film itu dibuat, akan meninggalkan jejak yang menjadikannya sesuatu yang berbeda," tuturnya.
Selain Daisy Edgar-Jones, Esmé Creed-Miles, Frank Dillane, George MacKay, dan Herbert Nordrum, Sense and Sensibility juga dibintangi Fiona Shaw dan Caitríona Balfe. Film ini tayang di bioskop Amerika Serikat mulai 16 Oktober 2026, bersamaan dengan sejumlah rilisan besar musim gugur seperti Street Fighter dan Sacrifice.