SURABAYA, AAD Today – Klaim bahwa vaksinasi dapat mengendalikan manusia hingga berubah menjadi zombie kembali ramai di media sosial. Sejak Agustus 2026, sejumlah akun Facebook menyebarkan video yang menuding vaksin berisi nanoteknologi untuk mengontrol tubuh dan pikiran penerimanya. Narasi tersebut dipastikan keliru setelah diverifikasi melalui penelusuran video asli dan keterangan para ahli.
Unggahan itu menampilkan cuplikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat mengumumkan kebijakan energi untuk mendukung industri kecerdasan buatan (AI). Pengunggah kemudian mengaitkan peluncuran teknologi tersebut dengan dugaan penanaman nanoteknologi lewat suntikan vaksin. Salah satu unggahan menuliskan, "Banyak orang akan memasuki keadaan yang tidak dapat dipulihkan dan menjadi zombie. Setengah manusia, setengah mesin, karena 'nanoteknologi' disuntikkan ke dalam aliran darah."
Berdasarkan hasil cek fakta Tempo, potongan video tersebut berasal dari siaran kanal YouTube LiveNOW from Fox dan akun Facebook Fox Business pada 24 Juli 2026. Dalam rekaman utuhnya, Trump membahas kebijakan pembangunan pembangkit listrik bagi perusahaan teknologi berbasis AI. Ia menyebut kebijakan itu dibuat untuk menjamin pasokan listrik warga sekaligus memenuhi lonjakan kebutuhan energi industri. Tidak ada satu pun pernyataan soal vaksinasi, nanoteknologi, ataupun upaya mengendalikan manusia.
Virolog Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Arif Ansori, menegaskan bahwa vaksin tidak mengandung nanochip yang bisa diaktifkan melalui sinyal 5G, 6G, maupun teknologi AI. Penerima vaksin, kata dia, tidak dapat dikendalikan dari jarak jauh, apalagi berubah menjadi zombie.
"Vaksinasi tidak dapat mengendalikan pikiran atau perilaku manusia, maupun mengambil alih tubuh manusia," kata Arif kepada Tempo melalui pesan WhatsApp, Rabu (30/9/2026).
Arif menerangkan, imunisasi justru bekerja dengan memicu respons imun adaptif dan membentuk memori imunologis. Cara ini membuat sistem kekebalan tubuh lebih sigap melawan saat seseorang terpapar patogen yang sesungguhnya.
"Vaksin bekerja dengan memperkenalkan antigen atau informasi biologis yang memungkinkan tubuh mengenali antigen tertentu kepada sistem imun," ujarnya.
Menurut Arif, vaksin tidak mengambil alih fungsi sistem kekebalan. Vaksin hanya memanfaatkan mekanisme alami tubuh untuk menghasilkan sel B, antibodi, sel T, serta sel memori yang spesifik terhadap penyakit tertentu. Di Indonesia, seluruh tahapan produksi vaksin juga diawasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), mulai dari uji mutu, keamanan, hingga efikasi, dan pengawasan itu berlanjut setelah vaksin digunakan masyarakat.
Hal senada disampaikan Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman. Ia menjelaskan bahwa tujuan vaksinasi adalah membentuk antibodi spesifik agar seseorang tidak jatuh sakit parah ketika terinfeksi kuman.
"Imunisasi merupakan salah satu cara untuk memberikan kekebalan secara aktif bersama kekebalan tubuh alami agar saling melengkapi," kata Aji kepada Tempo, Jumat (2/10/2026).
Teori konspirasi vaksin zombie sebenarnya bukan hal baru. Narasi ini pertama kali dilontarkan penceramah asal Kanada, Pierre Gilbert, pada 1996. Saat itu Gilbert meramalkan manusia akan menjadi zombie akibat vaksinasi menjelang tahun 2000 sebagai tanda kiamat. Gilbert sendiri bukan ahli medis, melainkan praktisi pengobatan alternatif seperti kiropraktik, akupunktur, dan naturopati yang mengaku menganut eskatologi, cabang teologi yang mempelajari akhir zaman.
Klaim serupa sempat kembali mencuat saat pandemi Covid-19 pada 2021. Namun, miliaran dosis vaksin Covid-19 yang telah disuntikkan di berbagai negara membuktikan ramalan tersebut tidak pernah terjadi.
Dengan demikian, narasi yang menyebut vaksin mengandung nanoteknologi untuk mengendalikan pikiran dan mengubah manusia menjadi zombie merupakan hoaks. Masyarakat diimbau untuk tidak mudah mempercayai video yang dipotong dari konteks aslinya dan selalu memeriksa informasi kesehatan melalui sumber resmi seperti Kementerian Kesehatan dan BPOM.