Dokumen Epstein Ungkap Proyek Genetik Bernama Venus untuk Perpanjang Usia Hidup

Dokumen Epstein Ungkap Proyek Genetik Bernama Venus untuk Perpanjang Usia Hidup

WASHINGTON - Departemen Kehakiman Amerika Serikat merilis dokumen-dokumen terkait Jeffrey Epstein, narapidana kasus kejahatan seksual anak yang meninggal pada Agustus 2019, pada Jumat pekan lalu. Rilis dokumen terakhir ini memicu gelombang teori konspirasi bahwa Epstein masih hidup setelah terungkap detail tentang eksperimen genetiknya yang ambisius.

 

Dari tumpukan dokumen yang dipublikasikan, terungkap bahwa Epstein pernah menjalankan program penelitian genetik bernama Venus Project dengan tujuan memperpanjang usia hidupnya. Dokumen yang dapat diakses di perpustakaan Departemen Kehakiman mencatat total biaya yang harus ditanggung Epstein untuk sekuensing genetik dan berbagai eksperimen mencapai 193.400 dolar AS atau sekitar Rp 3,1 miliar.

 

Rincian biaya dalam dokumen tersebut meliputi perangkat keras genomik senilai 100.000 dolar AS dan perangkat lunak genomik 60.000 dolar AS per tahun untuk dua sistem dengan masing-masing biaya 30.000 dolar AS per tahun. Selain itu, tercatat pula biaya sekuensing genom (exome) sebesar 1.000 dolar AS per peserta, dengan rencana melibatkan 200 partisipan dalam proyek tersebut.

 

Komunikasi tertulis dalam dokumen menyebutkan bahwa penelitian genomik ini akan sangat terbantu dengan adanya infrastruktur bioinformatika yang baik, yang tidak hanya bisa digunakan untuk Venus Project tetapi juga untuk analisis YPO dan proyek-proyek lainnya.

 

Pengungkapan tentang Venus Project ini memicu reaksi keras di media sosial. Warganet menyebut Epstein membayar dokter yang berafiliasi dengan Universitas Harvard untuk melakukan sekuensing genomnya dan mengeksplorasi penggunaan teknologi penyuntingan gen CRISPR pada sel punca miliknya guna meningkatkan umur panjang.

 

Meskipun teori konspirasi tentang Epstein yang masih hidup kian menguat setelah terungkapnya Venus Project, otoritas menegaskan bahwa mantan pemodal yang jatuh tersebut meninggal akibat luka yang diakibatkan diri sendiri di sel tahanannya pada Agustus 2019.

 

Joseph Thakuria, peneliti yang namanya disebutkan dalam dokumen Epstein, memberikan pernyataan kepada CNN mengenai pekerjaan yang dilakukannya. "Tuan Epstein terdaftar dalam Personal Genome Project yang mempelajari predisposisi genetiknya terhadap berbagai kondisi kesehatan. Pada satu titik, cek senilai 2.000 dolar AS diberikan untuk menutupi biaya sekuensing DNA. Saya adalah dokter-peneliti dan dia adalah subjek penelitian. Kami juga melakukan diskusi awal tentang kemungkinannya mendanai penelitian, tetapi itu tidak pernah terwujud. Saya merasa sangat buruk tentang apa yang dialami para korbannya, dan saya menyesali pada saat itu tidak mengetahui lebih banyak tentang latar belakangnya dan tingkat kejahatannya," ungkap Thakuria dalam pernyataannya.

 

Sebagian dari proposal penelitian tersebut mencakup rencana penyuntingan sel punca Epstein menggunakan teknologi CRISPR, yang pada masa itu masih tergolong baru, untuk memasukkan mutasi yang diyakini dapat meningkatkan umur panjang dalam kultur sel.

 

Rilis dokumen-dokumen ini menambah panjang daftar kontroversi seputar kasus Epstein yang melibatkan berbagai tokoh ternama dan membuka kembali pertanyaan publik mengenai jaringan dan aktivitas mendiang narapidana tersebut. 

Ikuti AAD Today Online di GoogleNews

Berita Lainnya

Index