Jakarta, 3 Februari 2026 — Pengungkapan terbaru dari dokumen Epstein Files telah memicu kemarahan luas di kalangan umat Muslim di seluruh dunia. Berkas yang dirilis Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) mengungkap fakta mengejutkan: tiga potongan Kiswah kain hitam bersulam emas yang menutupi Ka'bah di Mekkah, Arab Saudi dikirimkan ke kediaman Jeffrey Epstein di Florida pada Maret 2017. Pengiriman tersebut diatur melalui jaringan kontak yang terkait dengan Uni Emirat Arab (UEA), dan seluruh prosesnya tercatat secara rinci dalam korespondensi email yang kini telah dibuka ke publik.
Jeffrey Epstein adalah seorang financier asal Amerika Serikat yang telah terdaftar sebagai pelaku kejahatan seks usai mengaku bersalah pada 2008. Pada Juli 2019, ia ditangkap kembali atas tuduhan federal sex trafficking dan eksploitasi anak di bawah umur. Epstein ditemukan tewas di sel tahanan pada 10 Agustus 2019. Dokumen yang mengungkap pengiriman Kiswah ini merupakan bagian dari lebih dari 3 juta halaman berkas yang dirilis oleh DOJ pada 30 Januari 2026, sebagai bagian dari pelaksanaan Epstein Files Transparency Act yang ditandatangani Presiden Donald Trump pada 19 November 2025.
Kiswah adalah salah satu benda paling suci dalam ajaran Islam. Kain tersebut terbuat dari sutra berkualitas tinggi dan dibordir dengan ayat-ayat Al-Quran menggunakan benang emas dan perak. Setiap tahun, Kiswah lama dilepas dari Ka'bah pada tanggal 9 Dzulhijjah dan diganti dengan yang baru dalam prosesi yang telah berlangsung selama berabad-abad. Potongan Kiswah yang telah digunakan tidak pernah dibuang. Tradisi yang telah lama dipegang pemerintah Arab Saudi adalah mendistribusikan potongan-potongan tersebut secara terbatas kepada para pejabat, museum, lembaga keagamaan resmi, dan negara-negara Muslim sebagai bentuk penghormatan tertinggi. Pemerintah Arab Saudi selama ini menerapkan kendali ketat terhadap proses produksi dan distribusi Kiswah, sehingga kepemilikannya oleh pihak swasta mana pun adalah hal yang sangat tidak biasa.
Korespondensi email dalam berkas DOJ yang bertanggal antara Februari hingga Maret 2017 mengungkap secara gamblang bagaimana pengiriman itu diatur. Sosok utama di balik transaksi ini adalah Aziza Al-Ahmadi, seorang pengusaha wanita yang berbasis di UEA dan dilaporkan memiliki kewarganegaraan Saudi. Al-Ahmadi bekerja sama dengan seorang pria bernama Abdullah Al-Maari, kontak yang berbasis di Arab Saudi, untuk mengatur pengadaan dan pengiriman tiga potongan Kiswah. Potongan pertama berasal dari bagian dalam Ka'bah, potongan kedua adalah bagian penutup luar yang telah digunakan selama prosesi haji, dan potongan ketiga dibuat dari bahan yang sama namun belum pernah digunakan. Potongan yang belum terpakai inilah yang kemudian menjadi kunci dalam trik pengiriman: seluruh paket dideklarasikan kepada pihak bea cukai sebagai "karya seni" atau artwork, sehingga pengiriman dapat melewati prosedur tanpa memunculkan kecurigaan.
Logistik pengiriman melibatkan beberapa pihak. Di sisi Indonesia atau lebih tepatnya di sisi Epstein asisten Epstein bernama Daphne Wallace bertindak sebagai titik kontak untuk menangani urusan logistik di dalam negeri Amerika Serikat, sementara seorang rekan bernama Chalmer Stauffer menangani pengurusan bea cukai dan transportasi. Paket tersebut dikirim melalui kargo udara dari Arab Saudi ke Florida menggunakan maskapai British Airways, transit melalui Miami, dan akhirnya diteruskan ke kediaman Epstein. Seluruh rangkaian pengiriman ini didukung oleh faktur, bukti pembayaran, dan konfirmasi pengiriman yang semuanya tercatat dalam berkas.
Dalam salah satu email bertanggal 22 Maret 2017 email yang kini menjadi fokus utama perhatian publik dunia Al-Ahmadi secara langsung menjelaskan nilai keagamaan kain tersebut kepada Epstein. "Potongan kain hitam itu telah disentuh oleh setidaknya 10 juta umat Muslim dari berbagai mazhab, Sunni, Syiah, dan lainnya," tulis Al-Ahmadi. "Mereka mengitari Ka'bah sebanyak tujuh putaran, kemudian setiap orang berusaha sebisa mungkin untuk menyentuhnya dan mereka menyimpan doa, harapan, air mata, dan keinginan mereka pada potongan ini. Berharap setelah itu semua doa mereka akan diterima," sambungnya.
Kalimat-kalimat tersebut mengungkap betapa Al-Ahmadi sepenuhnya memahami makna spiritual dari benda yang ia kirimkan, sekaligus menjadikan fakta bahwa benda tersebut dikirimkan kepada seorang pria yang telah terdaftar sebagai pelaku kejahatan seks semakin mengejutkan. Dokumen yang tersedia tidak menjelaskan bagaimana Al-Ahmadi mengenal Epstein, maupun apa tujuan atau motivasi di balik pengiriman Kiswah tersebut.
Hubungan antara Al-Ahmadi dan Epstein tidak berhenti pada transaksi Kiswah. Korespondensi email yang terungkap menunjukkan bahwa setelah Badai Irma menghantam kawasan Karibia pada September 2017 dan menyebabkan kerusakan besar di pulau pribadi Epstein yang bernama Little Saint James, Al-Ahmadi berkali-kali menghubungi sekretaris Epstein untuk menanyakan kondisi dan keselamatannya. Sekretaris Epstein melalui email menyampaikan bahwa semua orang dalam kondisi selamat, meskipun sejumlah struktur, pohon, dermaga, dan akses jalan di pulau tersebut mengalami kerusakan parah. Al-Ahmadi merespons dengan pesan: "Berjanji akan mengirimkan tenda baru ;)". Dokumen yang tersedia tidak menjelaskan apakah Al-Ahmadi pernah mengunjungi pulau Little Saint James, yang kemudian diketahui menjadi markas operasi jaringan perdagangan seks Epstein.
Misteri lain turut muncul dari berkas yang sama. Lesley Groff, asisten jangka panjang Epstein, tercatat pernah mengirimkan alat uji DNA kepada Al-Ahmadi. Alasan pengiriman alat uji tersebut hingga kini tidak dijelaskan dalam dokumen yang telah dibuka.
Dokumen Epstein Files juga memperlihatkan bahwa Epstein memiliki hubungan yang lebih luas dengan jaringan petinggi Arab Saudi dan UEA. Sebuah memo FBI yang dirilis pada 30 Januari 2026 mengandung klaim bahwa Epstein pernah bekerja sama dengan intelijen Amerika Serikat dan Israel, serta memiliki hubungan dekat dengan mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak. Dalam korespondensi lainnya, Epstein menulis pesan kepada seorang pria bernama Anas Al-Rashid mengenai pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi di Istanbul pada Oktober 2018, dan dalam pesan tersebut ia menulis: "Rasanya seperti sesuatu yang lebih besar dari yang terlihat. Saya tidak akan terkejut jika MBZ yang mengatur semuanya," merujuk pada pemimpin UEA Mohammed bin Zayed. Namun klaim-klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Hingga berita ini diturunkan, pemerintah Arab Saudi belum memberikan tanggapan resmi mengenai pengungkapan tersebut. Hal ini menjadi pertanyaan besar tersendiri, mengingat Arab Saudi selama ini mengklaim kendali penuh atas distribusi Kiswah dan memiliki tanggung jawab untuk memastikan benda suci tersebut tidak berakhir di tangan pihak yang tidak layak. Pengungkapan ini tidak hanya menambah lapisan kontroversial baru dalam kasus Epstein, tetapi juga membuka pertanyaan mendalam tentang siapa yang benar-benar mengawasi rantai kepemilikan benda-benda paling sakral dalam sejarah Islam.