Jakarta — Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) secara resmi merilis jutaan halaman dokumen rahasia yang dikenal sebagai Epstein File, termasuk korespondensi, foto, dan catatan internal yang menyertakan nama-nama tokoh paling berpengaruh di dunia. Rilis tersebut dipicu oleh pengesahan Epstein Files Transparency Act oleh Kongres Amerika Serikat pada 18 November 2025, dan secara bertahap mulai dibuka ke publik sejak 19 Desember 2025.
Jeffrey Edward Epstein adalah seorang financier asal Amerika Serikat yang selama bertahun-tahun membangun jaringan pergaulan elite di kalangan dunia bisnis, perpolitikan, dan hiburan. Namun di balik citra sosial tersebut, Epstein didakwa terlibat dalam perdagangan dan eksploitasi seksual anak di bawah umur. Ia pertama kali diselidiki oleh polisi Palm Beach pada 2005 setelah laporan pembayaran kepada gadis berusia 14 tahun untuk pijat. Pada 2008, Epstein mengaku bersalah atas satu dakwaan tingkat negara bagian dan menjalani hukuman 18 bulan penjara — sebuah kesepakatan hukum yang hingga kini masih diperdebatkan. Pada 6 Juli 2019, ia ditangkap kembali atas tuduhan federal sex trafficking dan konspirasi. Namun pada 10 Agustus 2019, Epstein ditemukan tewas di sel tahanan, dengan penyelidikan menyimpulkan kasus tersebut sebagai bunuh diri.
Meskipun kasus hukum Epstein sendiri terhenti akibat kematiannya, tekanan dari publik dan parlemen mendorong DOJ untuk membuka berkas penyelidikan secara bertahap. Lebih dari 3 juta halaman dokumen, 2.000 video, dan 180.000 gambar kini telah dirilis sebagai bagian dari proses tersebut. Wakil Jaksa Agung Amerika Serikat, Todd Blanche, mengakui bahwa masih ada ratusan ribu halaman yang belum selesai diperiksa dan ditetapkan statusnya.
Nama Donald Trump menjadi salah satu yang paling banyak dirujuk dalam dokumen tersebut, dengan ribuan referensi yang tercatat. Sebagian besar berisi email di mana Epstein berbagi artikel berita tentang Trump dan mengomentari kebijakan atau politiknya. Dokumen juga mengungkap spreadsheet berisi laporan dari orang-orang yang mengaku memiliki pengetahuan tentang pelanggaran yang diduga melibatkan Trump, meskipun DOJ mencatat bahwa laporan tersebut bersifat klaim sepihak dan belum terverifikasi secara hukum.
Bill Clinton juga tercatat memiliki hubungan sosial dengan Epstein, termasuk kunjungan ke Gedung Putih menggunakan pesawat pribadi Epstein. Berkas investigasi juga mengungkap foto-foto Clinton bersama sejumlah tokoh terkenal lainnya yang disimpan Epstein di rumahnya di New York. Perwakilan Clinton menegaskan bahwa mantan presiden tersebut memutuskan hubungan dengan Epstein setelah dakwaan pidana pertama pada 2006.
Pangeran Andrew Mountbatten turut disebut setidaknya beberapa ratus kali dalam dokumen, termasuk dalam korespondensi pribadi Epstein yang memuat undangan makan mangan di Istana Buckingham. Raja Charles III telah mencabut gelar kerajaan Mountbatten pada akhir 2025, termasuk hak untuk disebut sebagai pangeran dan Duke of York. Sarah Ferguson, mantan istri Pangeran Andrew, sebelumnya telah meminta maaf secara publik pada Maret 2011 karena membiarkan Epstein melunasi sebagian utangnya.
Di kalangan dunia bisnis, nama Elon Musk muncul dalam pertukaran email pada 2012 dan 2013, khususnya dalam konteks pembahasan kunjungan ke kompleks pulau Karibia milik Epstein. Musk menegaskan bahwa ia berulang kali menolak tawaran dari Epstein. Richard Branson, pendiri Virgin Group, juga tercatat kerap bertukar email dengan Epstein sepanjang 2013 dan mengundangnya ke pulau pribadi di Karibia. Virgin Group menekankan bahwa setiap urusan dengan Epstein terbatas pada lingkungan kelompok atau bisnis, dan Branson disebut telah memutus kontak setelah tuduhan serius terungkap.
Steven Tisch, salah satu pemilik tim NFL New York Giants, disebutkan lebih dari 400 kali dalam berkas tersebut. Korespondensi menunjukkan Epstein menawarkan untuk menghubungkan Tisch dengan sejumlah wanita selama bertahun-tahun, termasuk dalam email pada 2013 dengan subjek "Gadis Ukraina." Larry Summers, mantan Menteri Keuangan di era Clinton dan mantan presiden Universitas Harvard, juga tercatat memiliki berbagai pertemuan dan makan malam bersama Epstein. Sejumlah dokumen menunjukkan Summers mengirim email kepada Epstein pada 2019, setelah pengusaha itu didakwa melakukan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur, untuk membahas interaksinya dengan seorang wanita.
Di kalangan selebriti, laporan hotline FBI tahun 2019 menyebut nama rapper Jay-Z dan Pusha T berdasarkan keterangan seorang pelapor yang mengaku melihat keduanya bersama Harvey Weinstein di sebuah lokasi yang dikaitkan dengan Epstein. DOJ mencatat bahwa laporan tersebut bersifat klaim sepihak yang belum terverifikasi secara hukum. Harvey Weinstein sendiri saat ini sudah mendekam di penjara atas berbagai kasus kejahatan seksual di New York dan Los Angeles yang tidak berkaitan langsung dengan kasus Epstein.
Kevin Spacey tercatat menumpang pesawat Lolita Express — julukan untuk Boeing 727-100 milik Epstein — pada 2002 dalam misi kemanusiaan ke Afrika bersama rombongan Clinton Foundation. Spacey memberikan klarifikasi bahwa ia tidak mengenal Epstein secara pribadi dan baru mengetahui identitas pemilik pesawat bertahun-tahun kemudian.
Saksi Johanna Sjoberg memberikan keterangan di bawah sumpah bahwa Epstein sering menyebut nama Leonardo DiCaprio, Bruce Willis, dan Cate Blanchett dalam percakapan telepon untuk menunjukkan pengaruhnya. Namun Sjoberg menegaskan bahwa ia tidak pernah bertemu dengan ketiga aktor tersebut di lingkungan Epstein. Nama-nama seperti Mick Jagger, Alec Baldwin, dan Ralph Fiennes ditemukan dalam buku alamat pribadi Epstein, meskipun tidak ada bukti keterlibatan mereka dalam perjalanan atau aktivitas di pulau pribadi Epstein.
Epstein File juga menyentuh nama-nama dari Indonesia. Konglomerat Hary Tanoesoedibjo dan pendiri Sinar Mas Eka Tjipta Widjaja tercatat dalam dokumen, meskipun tidak terkait langsung dengan kejahatan Epstein. Nama Hary muncul dalam konteks pengembangan hotel milik Trump di Indonesia, terkait proyek Trump Residences Indonesia di Bogor dan Bali yang dimulai pada 2015. Eka Tjipta Widjaja disebut dalam kaitan penjualan mansion milik Trump di Beverly Hills pada 2009 seharga 9,5 juta dolar AS. Nama eks Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo juga muncul dalam dokumen, namun juga tidak terkait langsung dengan aktivitas kriminal Epstein.
DOJ menegaskan bahwa kemunculan nama atau foto seseorang dalam dokumen ini sama sekali tidak berarti orang tersebut bersalah atau terlibat dalam kejahatan seksual yang dilakukan Epstein. Sebagian besar catatan hanya mencerminkan hubungan sosial atau profesional yang terjalin pada waktu tertentu. Rilis dokumen ini dimaksudkan untuk memberikan transparansi penuh, termasuk memperjelas apakah ada pihak lain selain Epstein yang benar-benar terlibat dalam jaringan eksploitasi tersebut. Penyelidikan dan proses rilis berkas masih terus berlanjut hingga saat ini.