Indonesia Terseret dalam Epstein Files: Dari Nama Hary Tanoe hingga Foto Epstein di Bali, Apa Sebenarnya Konteksnya?

Indonesia Terseret dalam Epstein Files: Dari Nama Hary Tanoe hingga Foto Epstein di Bali, Apa Sebenarnya Konteksnya?
Sosok diduga Jeffrey Epstein yang melihat atraksi anak saat berada di hotel tersebar di media sosial [X/saras76]

Jakarta, 3 Februari 2026 — Kehebohan global yang dipicu oleh rilis jutaan halaman dokumen Epstein Files dari Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) kini merambah ke dalam negeri. Sejumlah nama tokoh Indonesia dan wilayah di Nusantara ternyata tercantum dalam berkas tersebut, mengundang pertanyaan besar dari publik soal seberapa jauh keterlibatan Indonesia dalam jaringan sosial mendiang financier Jeffrey Epstein.

 

Epstein Files berisi lebih dari 3 juta halaman dokumen, 180.000 foto, dan 2.000 video secara resmi dirilis ke publik pada 30 Januari 2026, menyusut pengesahan Epstein Files Transparency Act oleh Kongres Amerika Serikat pada 18 November 2025. Dokumen tersebut mencakup korespondensi, catatan penerbangan, email, hingga foto-foto yang selama bertahun-tahun disimpan rapat oleh otoritas hukum Amerika Serikat. Jeffrey Epstein adalah seorang financier asal Amerika Serikat yang ditangkap pada 6 Juli 2019 atas tuduhan federal sex trafficking dan eksploitasi anak di bawah umur. Ia ditemukan tewas di sel tahanan pada 10 Agustus 2019, dengan penyelidikan menyimpulkan kematiannya sebagai bunuh diri.

 

Di antara deretan nama dunia yang muncul dalam berkas tersebut mulai dari Donald Trump, Bill Clinton, hingga Elon Musk ternyata ada sejumlah nama dan wilayah dari Indonesia yang ikut tercantum. Namun konteks kemunculannya jauh lebih terbatas dari yang banyak dispekulasikan di media sosial.

 

Hary Tanoesoedibjo: Bisnis Trump di Indonesia

Nama konglomerat media Hary Tanoesoedibjo menjadi yang paling banyak diperbincangkan warganet sejak dokumen tersebut dirilis. Berdasarkan penelusuran langsung terhadap portal resmi DOJ, Hary disebut dalam konteks keterlibatannya sebagai mitra bisnis Donald Trump dalam pengembangan proyek properti di Indonesia. Kedua pengusaha ini memang telah menjalin kerja sama sejak 2015 melalui proyek bernama Trump Residences Indonesia, yang berlokasi di Bogor, Jawa Barat, dan Bali.

 

Yang lebih memicu spekulasi adalah munculnya frasa "Indonesian CIA" dalam satu paragraf yang menyertakan nama Hary. Kalimat tersebut dalam dokumen sebagian ditutup dengan sensor hitam, sehingga konteks lengkapnya sulit dipahami. Teks yang dapat dibaca berbunyi menyebutkan bahwa Hary telah memperkenalkan Trump kepada seseorang yang disebut sebagai "Indonesian CIA", meskipun nama orang tersebut tidak disebutkan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan atau klarifikasi resmi dari Hary Tanoesoedibjo maupun MNC Group terkait isi dokumen tersebut.

 

Penting untuk ditegaskan bahwa kemunculan nama Hary dalam Epstein Files sama sekali tidak menunjukkan keterlibatannya dalam kejahatan seksual yang dilakukan Epstein. Nama Hary muncul semata-mata karena hubungan bisnisnya dengan Trump, bukan dengan Epstein secara langsung.

 

Eka Tjipta Widjaja dan Transaksi Properti Trump

Nama pendiri grup Sinar Mas, Eka Tjipta Widjaja, juga tercantum dalam berkas Epstein Files. Konteksnya adalah transaksi properti yang melibatkan Trump pada 2009. Dokumen DOJ mencatat bahwa pada musim panas 2009, Trump menjual mansion miliknya di Beverly Hills seharga 9,5 juta dolar AS — sekitar 800.000 dolar lebih rendah dari harga listing tahun sebelumnya kepada entitas Swiss yang diduga terkait dengan keluarga Eka Widjaja. FBI dilaporkan menaruh perhatian pada transaksi tersebut karena melibatkan pembelian melalui apa yang diduga merupakan perusahaan cangkang. Mantan pengacara Trump, Michael Cohen, tercatat mengajukan dokumen hukum untuk perusahaan tersebut dan menandatangani akta jual beli terkait. Seperti halnya Hary Tanoesoedibjo, Eka Tjipta Widjaja tidak terkait langsung dengan Epstein maupun aktivitas kriminalnya.

 

Joko Widodo dan Sri Mulyani: Hanya Dalam Konteks Pemberitaan

Nama mantan Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo dan eks Menteri Keuangan Sri Mulyani juga ditemukan dalam berkas tersebut. Namun kedua nama itu muncul hanya dalam bentuk kutipan pemberitaan — bukan dalam catatan interaksi atau hubungan sosial maupun profesional dengan Epstein. Tidak ada dokumen yang mengindikasikan bahwa Joko Widodo atau Sri Mulyani pernah bertemu, berkomunikasi, atau memiliki hubungan dalam bentuk apapun dengan Jeffrey Epstein.

 

Suharto: Rekomendasi Buku

Nama mantan Presiden kedua Indonesia, Suharto, juga tercantum dalam Epstein Files. Konteksnya jauh dari apa yang dibayangkan publik. Nama Suharto muncul dalam bagian rekomendasi bacaan, berupa daftar buku yang disarankan kepada Epstein oleh Gregory Brown, yang diketahui menjabat sebagai ketua dan direktur utama Motorola Solutions. Sama sekali tidak ada kaitan langsung antara Suharto dan jaringan sosial atau kejahatan Epstein.

 

Bali dan Jakarta: Catatan Perjalanan dan Foto

Selain nama-nama tokoh, wilayah Bali dan Jakarta juga muncul dalam Epstein Files dan langsung menjadi bahan diskusi di media sosial. Berdasarkan catatan penerbangan yang tercantum dalam dokumen, Bali dan Jakarta tercatat sebagai destinasi yang pernah dikunjungi atau dijadikan titik transit oleh Epstein. Foto-foto yang dirilis menunjukkan Epstein dan Ghislaine Maxwell wanita yang dikenal sebagai tangan kanan Epstein dan kini sedang menjalani hukuman 20 tahun penjara — berada di Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali. Epstein juga terlihat berjalan-jalan di kawasan Ubud, mengamati patung batu dan ornamen bernuansa Buddha, layaknya seorang turis biasa.

 

Foto tersebut diperkirakan diambil antara 27 hingga 29 Mei 2002, berdasarkan metadata yang disertakan dalam dokumen. Sementara itu, Jakarta disebut dalam sebuah email yang dikirimkan Bill Gates kepada Epstein, di mana Gates menyebutkan bahwa ia baru saja tiba di Jakarta dan memiliki waktu transit dua jam sebelum melanjutkan perjalanan ke Bali menggunakan maskapai asal Indonesia.

 

Salah satu dokumen yang paling banyak dibahas adalah file berlabel EFTA00129111.pdf, yang memuat surat serta foto-foto dengan keterangan "Before a group/gang training exercise in Bali". Kalimat tersebut langsung memicu gelombang spekulasi di media sosial. Namun para ahli hukum mengingatkan bahwa keterangan dalam dokumen belum tentu mencerminkan fakta hukum dan masih memerlukan konteks yang lebih lengkap untuk ditafsirkan. Hingga saat ini, belum ada bukti yang mengaitkan aktivitas ilegal Epstein secara langsung dengan lokasi manapun di Indonesia.

 

Hoax dan Misinformasi: Waspadai Daftar Nama Palsu

Tingginya minat publik terhadap Epstein Files telah memunculkan gelombang misinformasi di dunia digital. Sejumlah akun media sosial menyebarkan daftar nama yang diklaim berasal dari dokumen resmi, namun sebagian besar tidak dapat diverifikasi dan diduga merupakan hoax. Ada pula tautan unduhan PDF yang tidak berasal dari sumber resmi, yang dimanfaatkan pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan malware. Satu-satunya akses resmi dan aman terhadap Epstein Files adalah melalui portal Epstein Library di situs Departemen Kehakiman Amerika Serikat di justice.gov.

 

DOJ sendiri menegaskan bahwa kemunculan nama seseorang dalam dokumen ini tidak secara otomatis membuktikan keterlibatan mereka dalam kejahatan. Konteks penyebutannya sangat beragam — mulai dari sekadar disebut dalam percakapan, menjadi bagian dari pemberitaan, hingga tercatat dalam catatan transaksi bisnis yang tidak berkaitan dengan aktivitas kriminal Epstein. Wakil Jaksa Agung Amerika Serikat, Todd Blanche, mengakui bahwa masih ada ratusan ribu halaman dokumen yang belum selesai diperiksa dan akan terus dirilis secara bertahap. Penyelidikan dan proses transparansi tersebut masih terus berlanjut hingga saat ini. 

Ikuti AAD Today Online di GoogleNews

Berita Lainnya

Index