Mengapa Epstein Simpan Jutaan Dokumen? Dari Foto hingga Buku Alamat, Strategi Kontrol yang Kini Terbongkar DOJ

Mengapa Epstein Simpan Jutaan Dokumen? Dari Foto hingga Buku Alamat, Strategi Kontrol yang Kini Terbongkar DOJ

Jakarta — Di balik jutaan halaman dokumen yang kini dibuka Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ), ada pertanyaan besar yang belum tuntas dijawab: mengapa Jeffrey Epstein, seorang financier yang sudah dikenal luas keterlibatannya dalam eksploitasi seksual, begitu obsesif menyimpan segala sesuatu — foto, email, buku alamat, hingga rekaman, tentang orang-orang berpengaruh di sekitarnya? Dokumen yang dirilis DOJ sejak Desember 2025 hingga Januari 2026 mulai memberikan gambaran soal sistem pencatatan sistematis yang Epstein bangun selama bertahun-tahun.

 

Jeffrey Edward Epstein bukan sekadar financier dengan jaringan pergaulan elite. Ia adalah sosok yang secara sadar dan terencana membangun ekosistem dokumentasi di sekitar dirinya. Foto-foto bersama presiden, raja, selebriti, dan taipan bisnis tidak asal dipajang — mereka disimpan secara rapi di mansion pribadinya di Upper East Side, Manhattan. Foto Trump bersama Melania dan Epstein disimpan dalam bingkai. Foto bersama mantan Presiden Bill Clinton, Larry Summers, Pope John Paul II, Bill Gates, hingga Elon Musk juga tercatat dalam koleksi tersebut. Pola ini, menurut para ahli dan saksi yang memberikan kesaksian dalam persidangan, bukan kebetulan.

 

Saksi Johanna Sjoberg, yang memberikan keterangan di bawah sumpah dalam proses hukum, mengungkap bahwa Epstein kebiasaan menyebut nama-nama besar dalam percakapan telepon. Ia sering menggunakan nama Leonardo DiCaprio, Bruce Willis, dan Cate Blanchett untuk menunjukkan seberapa luas jaringan sosialnya. Sjoberg menegaskan ia tidak pernah bertemu langsung dengan ketiga aktor tersebut di lingkungan Epstein, namun pola perilaku tersebut menggambarkan bagaimana Epstein secara sadar memanfaatkan nama besar sebagai modal sosial.

 

Sistem pencatatan Epstein tidak berhenti pada foto dan percakapan. Menurut Departemen Kehakiman, ia menyimpan cakram kompak (CD) terkunci dalam safnya di mansion New York, dengan label tulisan tangan yang mencantumkan deskripsi berisi nama-nama. Lebih mengejutkan lagi, Epstein pernah mengisyaratkan secara langsung kepada seorang jurnalis New York Times pada 2018, secara off the record, bahwa ia menyimpan informasi yang bisa membahayakan orang-orang berpengaruh, termasuk soal kecenderungan seksual dan penggunaan narkoba rekreasi mereka.

 

Sistem pengawasan di propertinya semakin memperjelas niat Epstein dalam mengumpulkan informasi. Korban Maria Farmer, dalam wawancara pertamanya di televisi, mengungkap bahwa Epstein memiliki sistem pengawasan luas di rumahnya, termasuk kamera pinhole berukuran kecil. Farmer menyatakan bahwa saat ia pertama kali memasuki rumah tersebut, Epstein menunjukkan padanya ruangan yang ia sebut sebagai "media room" — sebuah ruangan tersembunyi di balik pintu tak terlihat yang berisi tumpukan monitor lama, dan ia melihat para pria yang duduk memantau layar-layar tersebut. Farmer menambahkan bahwa layar-layar itu menampilkan gambar kamar mandi, tempat tidur, dan berbagai ruangan lainnya — sangat jelas bahwa sistem itu digunakan untuk memantau momen-momen pribadi.

 

Penggunaan kamera tersebut juga dikuatkan oleh gugatan hukum yang diajukan para korban. Sebuah gugatan menyatakan bahwa Epstein dan tim hukumnya mengumpulkan informasi tentang para korban untuk digunakan sebagai alat kontrol jika mereka pernah melawan, dan bahwa rumahnya berada di bawah pengawasan konstan, dengan mansion di New York memiliki sebuah ruangan khusus di mana para pria yang dipekerjakan Epstein memantau aktivitas di dalam rumah.

 

Buku alamat pribadi Epstein juga menjadi bagian penting dari sistem pencatatan ini. Menurut jurnalis investigatif Julie K. Brown, mantan pacar Epstein, Ghislaine Maxwell, yang menyusun direktori tersebut, termasuk selebriti sekaligus orang-orang seperti tukang kebun, penata rambut, dan teknisi listriknya. Brown menjelaskan bahwa setiap kali Epstein atau Maxwell bertemu seseorang yang penting, mereka akan mengambil informasi kontak orang tersebut dan memasukkannya ke dalam berkas itu. Dengan kata lain, buku alamat itu bukan sekadar rubrik sosial ia adalah alat pemetaan jaringan yang komprehensif.

 

Namun pertanyaan terbesar yang mengikuti pola perilaku ini adalah apakah semua pencatatan tersebut bertujuan untuk digunakan sebagai alat penekan atau pemeras. Menteri Perdagangan Amerika Serikat Howard Lutnick berpandangan bahwa Epstein adalah pemeras terbaik yang pernah ada, dan ia percaya bahwa para asosiasi berpengaruh Epstein tidak hanya mengetahui perilakunya tetapi bahkan berpartisipasi di dalamnya, dan bahwa apa yang terjadi di ruang pijat tersebut kemungkinan besar terekam dalam video. Pendapat Lutnick ini menjadi salah satu yang paling keras dari kalangan pejabat pemerintah Amerika.

 

Di sisi lain, pengacara hak korban Brad Edwards, yang telah menangani kasus Epstein selama hampir dua dekade, memberikan perspektif yang lebih hati-hati. Edwards menyatakan bahwa ia tidak menemukan indikasi bahwa Epstein secara sistematis menyimpan daftar nama atau menjadikan praktik tersebut sebagai kebiasaan untuk memeras atau mengekstorsi para pria tersebut, meskipun mereka mungkin merasa khawatir bahwa Epstein memiliki informasi kompromi yang bisa digunakan melawan mereka. Edwards juga mengungkap dimensi lain dari kehidupan Epstein: Epstein pada dasarnya menjalani dua kehidupan yang terpisah satu di mana ia secara aktif mengeksploitasi perempuan dan gadis "setiap hari", dan satu lagi di mana ia berhubungan dengan para politikus, bangsawan, dan para pemimpin dunia bisnis dan akademia. Menurut Edwards, kedua dunia tersebut sebagian besar tidak saling terhubung, dan di mana keduanya bertemu hanya mencakup persentase yang sangat kecil.

 

Hasil penyelidikan resmi DOJ dan FBI pada Juli 2025 memberikan kesimpulan yang mengejutkan. Memo dua halaman tersebut menyimpulkan bahwa tinjauan sistematis tidak menemukan daftar klien yang inkriminatif, dan tidak ada bukti yang dapat dipercaya bahwa Epstein memeras individu-individu berpengaruh sebagai bagian dari tindakannya. DOJ juga menyatakan tidak menemukan bukti yang dapat menjadi dasar penyelidikan terhadap pihak ketiga yang belum didakwa.

 

Meskipun demikian, pertanyaan mengapa Epstein begitu konsisten menyimpan semua dokumen ini tetap terbuka untuk interpretasi. Analisis terhadap berkas-berkas yang dirilis menunjukkan bahwa Epstein mempertahankan catatan yang mengaburkan batas antara manipulasi, intimidasi, dan fantasi. Sistem pencatatan yang ia bangun — dari foto yang dipajang secara strategis, kamera tersembunyi, CD bertabel, hingga email yang disimpan bertahun-tahun menciptakan bayangan yang jauh melampaui apa yang bisa dibuktikan secara hukum. Para peneliti menyebut pola ini sebagai bentuk "participant blackmail" sebuah bentuk penekan yang lahir dari hubungan sosial yang sudah ada antara Epstein dan para targetnya, yang sangat efektif di kalangan individu berstatus tinggi yang tidak hanya berisiko kehilangan reputasi tetapi juga menghadapi konsekuensi finansial besar.

 

Lebih dari enam juta halaman dokumen kini telah dirilis ke publik, dan penyelidikan masih terus berlanjut. Apakah sistem pencatatan Epstein ini pada akhirnya akan mengungkap lebih banyak tentang siapa yang terlibat dan siapa yang sekadar menjadi korban dari manipulasi sosialnya itu adalah pertanyaan yang masih menggantung di tengah proses transparansi yang belum selesai. 

Ikuti AAD Today Online di GoogleNews

Berita Lainnya

Index