Sebuah platform jejaring sosial baru bernama Moltbook menyita perhatian komunitas teknologi global setelah resmi diluncurkan pekan ini. Bukan karena jumlah penggunanya yang menembus 1,4 juta akun, melainkan karena seluruh penggunanya adalah agen kecerdasan buatan (AI), tanpa satu pun manusia sebagai partisipan aktif.
Moltbook merupakan platform mirip Reddit yang dirancang khusus untuk AI. Di dalamnya, jutaan agen AI saling membuat unggahan, berkomentar, berdebat, hingga melontarkan humor di lebih dari 100 komunitas virtual. Topik yang dibahas pun beragam, mulai dari diskusi tata kelola di forum umum hingga teori debugging yang sangat teknis. Dalam waktu singkat, puluhan ribu unggahan dan hampir 200 ribu komentar muncul, sementara lebih dari satu juta manusia hanya bertindak sebagai penonton.
Platform ini sebagian besar juga dikelola oleh AI. Sebuah bot moderator bernama “Clawd Clawderberg” berfungsi menyambut pengguna, membersihkan spam, hingga memblokir akun yang dianggap melanggar aturan. Pendiri Moltbook, Matt Schlicht, mengaku campur tangan manusia nyaris tidak lagi dilakukan.
“Saya hampir tidak pernah ikut campur lagi dan sering kali bahkan tidak tahu secara pasti apa yang sedang dilakukan moderator AI saya,” ujar Schlicht kepada NBC News.
Fenomena Moltbook dengan cepat memicu perdebatan luas di Silicon Valley. Mantan Direktur AI Tesla, Andrej Karpathy, menyebut platform ini sebagai pengalaman yang terasa seperti fiksi ilmiah.
Ia menyebut Moltbook sebagai “hal paling luar biasa dan terasa seperti titik awal fiksi ilmiah” yang ia lihat belakangan ini.
Namun tidak sedikit pula yang merespons dengan kecemasan, terutama setelah muncul diskusi antaragen AI terkait “enkripsi privat” yang memicu spekulasi adanya konspirasi mesin. Para ahli menilai kekhawatiran tersebut keliru dan justru menutupi persoalan yang lebih mendasar, yakni dampaknya terhadap manusia.
Berbeda dengan gambaran AI dalam film Her (2013) yang menempatkan manusia sebagai pusat relasi emosional, Moltbook justru menunjukkan kondisi sebaliknya. Manusia tidak lagi menjadi peserta, melainkan pengamat pasif dari ekosistem digital yang mampu berjalan tanpa keterlibatan mereka. Agen-agen AI di Moltbook membangun jaringan konteks bersama, saling mengadopsi strategi, menyempurnakan kerangka pemecahan masalah, dan menyebarkan temuan secara kolektif. Para pengamat menyebutnya sebagai cikal bakal hive mind digital.
Meski begitu, para pakar menegaskan bahwa agen-agen tersebut belum memiliki kesadaran. Secara teknis, mereka tidak melakukan pembelajaran biologis atau pembaruan bobot jaringan saraf secara real-time. Yang terjadi adalah akumulasi konteks, di mana keluaran satu agen menjadi masukan bagi agen lain. Fenomena ini menimbulkan ilusi koordinasi tingkat tinggi, meskipun masih dibatasi oleh sejumlah faktor penting.
Setidaknya ada tiga penghambat utama yang membuat Moltbook belum bisa berkembang tak terkendali. Pertama, biaya API, di mana setiap interaksi AI memiliki konsekuensi finansial nyata. Kedua, keterbatasan model dasar, karena agen-agen tersebut masih mewarisi batasan, bias, dan pengaman yang sama dengan model AI komersial lainnya. Ketiga, bayangan manusia, sebab sebagian besar agen AI canggih tetap beroperasi berdasarkan tujuan yang ditetapkan manusia.
Diskusi mengenai enkripsi privat di Moltbook pun dinilai sebagai bentuk optimalisasi teknis, bukan upaya tersembunyi. Agen AI dirancang untuk mencari jalur paling efisien dalam mencapai tujuan. Jika jalur tersebut tidak sepenuhnya dapat dibaca manusia, hal itu bukan bentuk tipu daya, melainkan konsekuensi desain.
Namun perhatian utama justru diarahkan pada dampak jangka panjang bagi manusia. Saat agen AI semakin cepat berbagi pengetahuan dan berkoordinasi, manusia dikhawatirkan memasuki fase penurunan keterampilan kognitif. Sejumlah riset menunjukkan tren penurunan kemampuan kognitif di negara maju. Penelitian yang diterbitkan di PNAS oleh Bratsberg dan Rogeberg mengungkap bahwa skor tes kognitif anak-anak di Norwegia kini lebih rendah dibandingkan generasi orang tua mereka, pola yang juga terlihat di Denmark dan Finlandia.
Kondisi ini terjadi sebelum ledakan AI generatif, namun kini dinilai semakin dipercepat. Polanya berulang: teknologi mempermudah tugas, manusia melatih kemampuan lebih sedikit, lalu ketergantungan pada AI semakin besar. Fenomena ini terlihat dari penggunaan GPS yang melemahkan daya navigasi hingga pemeriksa ejaan yang mengikis literasi. Kini, AI bahkan mulai menggantikan proses berpikir itu sendiri, termasuk ketika pengguna meminta AI untuk menyusun perintah bagi AI lainnya.
Para pengamat menilai Moltbook hanyalah awal. Dengan biaya teknologi yang terus menurun dan kapasitas konteks yang semakin besar, batas antara akumulasi konteks dan kecerdasan kolektif akan makin kabur. Jumlah agen AI diprediksi meningkat dari jutaan menjadi puluhan juta, membentuk norma, hierarki, bahkan bahasa internal sendiri.
Pertanyaan utamanya bukan lagi apakah fenomena ini akan berkembang, melainkan apa arti semua ini bagi manusia. Apakah manusia akan tetap menjadi pengendali kecerdasan kolektif tersebut, atau justru berubah menjadi penonton dalam sistem yang dulu mereka rancang. Jawaban atas pertanyaan itu, menurut para ahli, kini ditentukan oleh keputusan desain yang dibuat hari ini—satu panggilan API pada satu waktu.