Jakarta - Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) telah merilis lebih dari 3 juta halaman dokumen, 2.000 video, dan 180.000 gambar terkait kasus kejahatan seksual Jeffrey Epstein pada 30 Januari 2026. Di antara jutaan dokumen tersebut, sejumlah nama tokoh Indonesia turut tersebut, memicu pertanyaan publik mengenai konteks kemunculan mereka dalam arsip yang dikenal sebagai Epstein Files.
Apa Itu Epstein Files?
Epstein Files merupakan kumpulan besar dokumen, rekaman, dan materi bukti yang dikumpulkan aparat penegak hukum Amerika Serikat dalam berbagai penyelidikan terkait Jeffrey Epstein dan rekannya Ghislaine Maxwell. Arsip ini dipublikasikan sebagai pelaksanaan Epstein Files Transparency Act yang ditandatangani Presiden Donald Trump pada 19 November 2025.
Dokumen-dokumen berasal dari perkara pidana dan perdata Epstein di Florida dan New York, kasus Ghislaine Maxwell, penyelidikan kematian Epstein, investigasi mantan staf Epstein, laporan FBI, serta laporan Office of Inspector General. Pemerintah AS mengambil pendekatan "over-collecting" untuk mengumpulkan sebanyak mungkin materi relevan, termasuk dokumen yang dikirim publik kepada FBI.
Lebih dari 500 pengacara dan peninjau DOJ dilibatkan untuk memastikan kepatuhan hukum, khususnya perlindungan korban. Identitas korban dan keluarganya disamarkan, begitu pula sebagian gambar pornografis. Sebaliknya, nama tokoh publik dan politisi tidak disamarkan, sehingga banyak nama terkenal muncul dalam dokumen.
Konteks Kemunculan Nama Indonesia
Penelusuran katalog menggunakan kata kunci "Indonesia" menemukan sedikitnya 902 berkas yang memuat rujukan terhadap Indonesia maupun individu asal Tanah Air. Namun, keberadaan nama Indonesia dalam Epstein Files tidak memicu kontroversi besar di dalam negeri karena tidak ditemukan bukti hubungan langsung antara individu Indonesia dengan aktivitas kriminal Epstein.
DOJ secara terbuka menyatakan bahwa arsip ini dapat mencakup dokumen, gambar, video palsu, maupun klaim sensasional yang tidak benar. Oleh karena itu, Epstein Files bukanlah daftar pelaku kejahatan, melainkan arsip transparansi hukum yang harus dibaca dengan konteks, kehati-hatian, dan prinsip praduga tak bersalah.
Nama orang Indonesia bisa muncul karena Jeffrey Epstein dikenal memiliki jaringan internasional sangat luas dan aktif dalam berbagai kegiatan lintas negara seperti bisnis, filantropi, pendidikan, dan pergaulan sosial tingkat global. Dalam konteks ini, nama seseorang dapat tercantum hanya karena pernah berada dalam satu forum, tercatat sebagai kontak, pernah berkomunikasi, atau sekadar disebut pihak lain dalam kesaksian.
Daftar Tokoh Indonesia dalam Epstein Files
1. Hary Tanoesoedibjo
Nama pengusaha Hary Tanoesoedibjo muncul dalam dokumen FBI berlabel "unclassified" bertajuk "Federal Bureau of Investigation CHS Reporting" bertanggal Oktober 2020. Laporan ini merupakan dokumen resmi dari confidential human sources (CHS).
Hary disebut terlibat dalam pengembangan hotel-hotel bermerek Trump dan dikenal sebagai miliarder. Dokumen menyinggung rencana proyek Trump Residences Indonesia yang direncanakan di Bogor dan Bali. Laporan FBI mencatat Hary memperkenalkan Donald Trump kepada sosok yang digambarkan sebagai "CIA Indonesia", yang diduga merujuk pada individu dari Badan Intelijen Negara.
Disebut pula bahwa Hary membeli kediaman Trump di Beverly Hills dengan harga tinggi. Konteks dokumen berkaitan dengan penyelidikan pengaruh domestik atau asing terhadap proses pemilu Amerika Serikat, dan terunggah sebagai bagian kumpulan berkas yang memiliki keterkaitan tidak langsung dengan jaringan Epstein.
2. Eka Tjipta Widjaja
Nama pendiri Sinar Mas ini tercantum dalam dokumen yang membahas transaksi properti mewah Donald Trump pada 2009. Disebutkan sebuah rumah dijual seharga USD 9,5 juta kepada entitas Swiss yang terhubung dengan keluarga Widjaja.
Transaksi dilakukan secara tunai melalui perusahaan cangkang, dengan pengurusan administratif dibantu Michael Cohen, mantan pengacara Trump. Penyebutan nama ini berkaitan dengan catatan transaksi properti, bukan interaksi personal dengan Epstein.
3. Sri Mulyani
Dokumen yang memuat nama Menteri Keuangan Sri Mulyani berasal dari arsip internal World Bank Group bertanggal 18 Juni 2014. Dokumen merupakan email dan materi komunikasi internal institusi keuangan internasional, bukan dokumen pribadi Epstein.
Sri Mulyani disebut dengan jabatannya saat itu sebagai managing director and chief operating officer World Bank Group. Penyebutan namanya berkaitan dengan peluncuran President's Delivery Unit (PDU), unit strategis untuk memantau pencapaian target pembangunan secara real-time. Seluruh isi dokumen berada dalam kerangka tata kelola institusi dan tidak menunjukkan keterkaitan dengan Jeffrey Epstein.
4. Joko Widodo
Nama Presiden Joko Widodo muncul dalam Epstein Files secara murni informatif. Penyebutannya terdapat dalam pembaruan berita dan laporan situasi politik Indonesia yang dikirim sebagai kliping atau ringkasan informasi.
Tidak terdapat komunikasi langsung maupun tidak langsung antara Joko Widodo dan Jeffrey Epstein. Nama Jokowi muncul semata sebagai subjek pemberitaan, bukan pihak yang berinteraksi.
5. Soeharto
Nama presiden kedua RI ini muncul secara tidak langsung dalam dokumen yang memuat usulan penulisan buku tentang dirinya, yang diajukan Gregory Brown kepada Epstein. Dokumen berisi rekomendasi bacaan dan gagasan penulisan, bukan bukti hubungan personal antara Soeharto dan Epstein.
6. Kafrawi Yuliantono
Kafrawi Yuliantono digambarkan sebagai hotelier yang terkait dengan jaringan JW Marriott. Ia disebut berupaya menjalin kerja sama dengan Epstein setelah pertemuan di Bali.
Dalam Epstein Files tercantum dokumen administratif seperti curriculum vitae, surat lamaran kerja, dan berkas visa. Arsip ini menunjukkan upaya profesional, bukan keterlibatan dalam aktivitas kriminal.
Bali dan Jakarta Disebut dalam Dokumen
Nama Bali dan Jakarta muncul dalam berbagai dokumen terkait Jeffrey Epstein berdasarkan data flight logs (catatan penerbangan). Dalam email yang dikirimkan Bill Gates, pendiri Microsoft, kepada Epstein, ia menyebutkan baru saja tiba di Jakarta dan punya waktu transit dua jam sebelum bertolak ke Bali menggunakan maskapai asal Indonesia.
Foto Epstein dan Maxwell juga ditemukan di Bali sedang berada di sebuah toko di Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali. Salah satu dokumen berlabel EFTA00129111.pdf memuat foto sensitif dengan keterangan "Before a group/gang training exercise in Bali", meski belum diketahui pasti kaitan antara Bali dengan perkebunan Epstein di New Mexico.
Tokoh-Tokoh Dunia yang Terseret
Selain nama Indonesia, Epstein Files juga menyebut berbagai tokoh dunia. Pangeran Andrew, adik Raja Charles III, disebut berulang kali dalam dokumen, termasuk email yang menunjukkan ia diduga mengundang Epstein ke Istana Buckingham setelah Epstein selesai menjalani tahanan rumah pada 2008.
Nama Donald Trump muncul ratusan kali dalam berkas, meski Departemen Kehakiman AS menegaskan tuduhan tersebut tidak berdasar dan bersifat sensasional. Elon Musk disebut sempat bertanya kepada Epstein mengenai pesta "paling liar" di pulau miliknya.
Email juga mengungkap Bill Gates membuat catatan yang menyiratkan keterlibatan dalam hubungan di luar nikah, serta Steve Tisch yang emailnya muncul lebih dari 400 kali terkait perempuan dewasa.
Dokumen bahkan mengungkap klaim informan rahasia FBI yang menyebut Epstein sebagai mata-mata Israel yang direkrut Mossad, meski klaim ini belum terverifikasi sepenuhnya.
Siapa Jeffrey Epstein?
Jeffrey Epstein adalah pengusaha kaya Amerika Serikat yang juga penjahat seksual. Lahir 20 Januari 1953 di New York City, Epstein memulai karier di sektor perbankan dan pada 1982 mendirikan J. Epstein and Co yang mengelola aset senilai lebih dari USD 1 miliar.
Epstein ditangkap 6 Juli 2019 di Bandara Teterboro, New Jersey, setelah tiba dari Prancis. Ia dituduh melakukan eksploitasi seksual terhadap puluhan gadis di bawah umur di rumahnya di Manhattan dan Palm Beach. Epstein ditemukan tewas bunuh diri di sel tahanannya pada 10 Agustus 2019 sebelum menjalani sidang tingkat federal.
Kemunculan nama-nama tokoh Indonesia dalam Epstein Files mencerminkan luasnya cakupan dokumen yang dirilis, bukan indikasi keterlibatan dalam kejahatan Jeffrey Epstein. Sebagian besar penyebutan bersifat kontekstual, administratif, atau berupa kliping informasi yang harus dipahami dengan prinsip praduga tak bersalah.