Washington — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga Pendeta Jesse Jackson, tokoh besar gerakan hak sipil Amerika Serikat yang meninggal dunia pada Selasa, 17 Februari 2026, di usia 84 tahun. Trump memuji Jackson sebagai "kekuatan alam yang langka" dan mengakui hubungan persahabatan keduanya yang terjalin selama beberapa dekade.
Melalui unggahan di platform Truth Social miliknya, Trump menyebut bahwa ia mengenal Jackson jauh sebelum dirinya menjabat sebagai presiden. "Dia adalah pria yang baik, dengan banyak kepribadian, ketangguhan, dan kecerdasan jalanan," tulis Trump. "Dia sangat ramah — seseorang yang benar-benar mencintai orang lain!" Trump juga menambahkan pernyataan yang menyinggung tuduhan rasisme yang kerap diarahkan kepadanya: "Meskipun saya secara keliru dan terus-menerus disebut rasis oleh para penjahat dan orang gila dari Kiri Radikal, semuanya Demokrat, selalu menjadi kesenangan saya untuk membantu Jesse sepanjang jalan."
Jackson meninggal dengan tenang pada Selasa pagi, sebagaimana dikonfirmasi oleh keluarganya dalam sebuah pernyataan resmi, meski tidak menyebutkan penyebab kematian maupun lokasi kepergiannya. Pada November lalu, Jackson sempat dirawat di rumah sakit untuk pengamatan atas kondisi neurodegeneratif langka yang ia derita, yakni progressive supranuclear palsy (PSP). Jauh sebelumnya, pada 2017, ia juga mengumumkan bahwa dirinya didiagnosis mengidap penyakit Parkinson yang pada stadium awal menunjukkan gejala mirip PSP.
Dalam unggahannya, Trump turut menyebutkan sejumlah kebijakan yang ia klaim didukung oleh Jackson, antara lain reformasi peradilan pidana, peningkatan pendanaan bagi universitas-universitas bersejarah milik komunitas kulit hitam (Historically Black Colleges and Universities/HBCU), serta program Opportunity Zones insentif pajak untuk mendorong pembangunan ekonomi di kawasan berpenghasilan rendah yang diciptakan melalui reformasi pajak 2017. "Jesse adalah kekuatan alam seperti sedikit orang sebelumnya," kata Trump. "Dia sangat mencintai keluarganya, dan kepada mereka saya mengirimkan simpati dan belasungkawa terdalam. Jesse akan sangat dirindukan!"
Hubungan antara Trump dan Jackson bukanlah hal baru dan memiliki akar sejarah yang panjang. Foto-foto dokumenter memperlihatkan keduanya bersama dalam pertandingan tinju di Atlantic City, New Jersey, pada 1988, serta di sebuah acara kampanye di New York pada tahun yang sama. Pada 1997, Trump mengumumkan kesediaannya menyumbangkan ruang kantor di Trump Building, 40 Wall Street, kepada Wall Street Project milik Rainbow PUSH Coalition yang tengah direnovasi, sebagaimana dilaporkan The New York Times saat itu. Setahun kemudian, Jackson memperkenalkan Trump dalam konferensi yang diselenggarakan oleh Wall Street Project pada Januari 1998, dengan berseloroh menyebutnya "orang paling pemalu dan paling menarik diri" — sementara Trump tertawa mendengarnya. Pada 1999, Jackson kembali memuji Trump karena menyediakan ruang kerja di 40 Wall Street, menyebutnya sebagai upaya "membuat pernyataan tentang kehadiran kami di sana." Jackson bahkan pernah berkata, "Seseorang bisa melewatkan keseriusannya dan komitmennya, karena kesuksesannya sudah tidak perlu diperdebatkan."
Jesse Jackson sendiri adalah sosok yang meninggalkan warisan besar dalam sejarah Amerika. Lahir dengan nama Jesse Louis Burns pada 8 Oktober 1941, di Greenville, South Carolina, ia tumbuh dalam kondisi serba terbatas di tengah sistem segregasi rasial di era Jim Crow. Ibunya, Helen Burns, melahirkannya di usia 16 tahun, sementara ayah biologisnya, Noah Louis Robinson, seorang mantan petinju berusia 33 tahun yang tidak pernah terlibat dalam pengasuhannya sebuah kenyataan yang menjadi sumber rasa malu bagi Jackson semasa kecil. Ia akhirnya menggunakan nama belakang ayah tirinya, Charles Jackson, yang menikahi ibunya pada 1943.
Dengan kefasihan pidato yang membakar semangat dan visi populis tentang "koalisi pelangi" bagi kaum miskin yang terpinggirkan, Jackson menjadi tokoh kulit hitam paling berpengaruh di Amerika antara era perjuangan hak sipil Martin Luther King Jr. dan terpilihnya Barack Obama sebagai presiden pertama berkulit hitam pada 2008. Ia pernah berkata dalam pidatonya di Konvensi Nasional Demokrat 1984: "Konstituen saya adalah yang putus asa, yang terkutuk, yang tidak mewarisi, yang tidak dihormati, dan yang dihina. Mereka gelisah dan mencari pertolongan."
Jackson mengambil alih estafet perjuangan Dr. King setelah pembunuhan sang pemimpin pada 1968 dan mencalonkan diri sebagai presiden dua kali — pada 1984 dan 1988 jauh sebelum Obama melakukannya. Pada pemilu 1984, ia meraih 3,2 juta suara dalam pemilihan pendahuluan, menempati posisi ketiga di belakang Senator Gary Hart dan mantan Wakil Presiden Walter Mondale yang akhirnya menjadi kandidat Demokrat. Pada 1988, ia berhasil meraih hampir tujuh juta suara dalam pemilihan pendahuluan, atau 29 persen dari total suara, meski akhirnya Gubernur Massachusetts Michael Dukakis yang meraih nominasi.
Meski tak pernah meraih kemenangan tertinggi dalam politik, Jackson mendirikan Rainbow PUSH Coalition sebagai organisasi hak sipil yang terus berjuang melawan ketidaksetaraan. Ia juga dikenal karena diplomasi lintas batas yang berhasil membebaskan seorang letnan Angkatan Laut AS, Robert O. Goodman Jr., yang ditahan di Lebanon pada 1984 setelah pesawatnya ditembak jatuh. Gagasannya tentang koalisi multiras yang diberdayakan untuk melawan ketimpangan ekonomi tetap menjadi inti dari sayap progresif Partai Demokrat hingga hari ini dan menginspirasi gerakan-gerakan seperti Black Lives Matter.
Kepergian Jesse Jackson menjadi kehilangan besar bagi Amerika dan dunia. Mantan Duta Besar AS untuk PBB, Andrew Young juga seorang tokoh hak sipil dan sahabat dekat Jackson selama puluhan tahun turut menyampaikan penghormatan atas warisan yang ditinggalkan Jackson. Upeti dari berbagai penjuru dunia terus mengalir menandai berakhirnya era seorang pejuang yang misi hidupnya, seperti yang pernah ia nyatakan sendiri, adalah "mengubah cara berpikir Amerika."