Kepolisian Metropolitan Inggris resmi membuka penyelidikan pidana terhadap mantan Duta Besar Inggris untuk Amerika Serikat, Peter Mandelson, terkait dugaan pembocoran dokumen pemerintah kepada mendiang miliarder Jeffrey Epstein. Pengumuman ini disampaikan Komandan Kepolisian Metropolitan Ella Marriott pada Selasa (3/2/2026).
Penyelidikan ini dipicu setelah Departemen Kehakiman Amerika Serikat merilis jutaan dokumen pengadilan terkait kasus Epstein. Kepolisian Metropolitan kemudian menerima sejumlah laporan dugaan pelanggaran jabatan publik, termasuk rujukan langsung dari pemerintah Inggris.
"Setelah rilis lanjutan jutaan dokumen pengadilan terkait Jeffrey Epstein oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat, Kepolisian Metropolitan menerima sejumlah laporan dugaan pelanggaran jabatan publik, termasuk rujukan dari pemerintah Inggris," kata Marriott.
Marriott memastikan bahwa penyelidikan kini difokuskan pada seorang pria berusia 72 tahun yang merupakan mantan menteri pemerintah. "Saya dapat mengonfirmasi bahwa Kepolisian Metropolitan kini meluncurkan penyelidikan terhadap seorang pria berusia 72 tahun, mantan menteri pemerintah, atas dugaan pelanggaran jabatan publik," ujarnya.
Media-media Inggris melaporkan bahwa Mandelson diduga mengirimkan dokumen rahasia pemerintah kepada Epstein pada 2009 saat menjabat sebagai Menteri Bisnis di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Gordon Brown. Dokumen yang dibocorkan tersebut ditulis oleh Nick Butler, penasihat politik senior Brown, dan berisi informasi sensitif mengenai kemungkinan penjualan aset negara Inggris di tengah krisis keuangan global.
Mandelson merespons kontroversi ini dengan mengundurkan diri dari Partai Buruh pada Senin (2/2/2026) menyusul terungkapnya hubungannya dengan Epstein. Sehari kemudian, politikus veteran tersebut juga melepaskan keanggotaannya di House of Lords, majelis tinggi parlemen Inggris.
Kasus ini mencuat setelah Wakil Jaksa Agung AS Todd Blanche mengumumkan pada 30 Januari 2026 bahwa seluruh materi terkait kasus Epstein telah dirilis secara lengkap. Total data yang dipublikasikan mencapai lebih dari 3,5 juta berkas, yang di dalamnya menyebutkan nama-nama sejumlah tokoh berpengaruh dunia.
Jeffrey Epstein sendiri pada 2019 didakwa oleh pihak berwenang AS atas tuduhan perdagangan seks anak di bawah umur dan konspirasi terkait, dengan ancaman hukuman maksimal 45 tahun penjara. Jaksa menyatakan Epstein menyalahgunakan puluhan gadis di bawah umur antara 2002 hingga 2005, sebagian korban berusia 14 tahun.
Pengadilan Manhattan menolak permohonan jaminan Epstein pada Juli 2019. Pada bulan yang sama, Epstein ditemukan tewas bunuh diri di sel tahanannya sebelum persidangannya dimulai.
Dokumen-dokumen yang baru dirilis tersebut mencantumkan nama-nama figur terkemuka dunia, termasuk Presiden AS Donald Trump, pengusaha Elon Musk, pendiri Microsoft Bill Gates, mantan Presiden AS Bill Clinton, serta berbagai tokoh berpengaruh lainnya.
Kasus ini menambah daftar panjang kontroversi seputar jaringan Epstein yang terus terungkap bahkan setelah kematiannya, dan menunjukkan dampak luas dari hubungan miliarder kontroversial tersebut dengan elit politik dan bisnis global.