JAKARTA – Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo menegaskan daya beli masyarakat Indonesia tidak melemah sepanjang semester I-2026. Pemerintah menilai yang terjadi justru pergeseran pola konsumsi masyarakat ke sektor transportasi, pariwisata, transaksi digital, dan belanja daring.
Pernyataan itu disampaikan Dradjad dalam konferensi pers seusai bertemu Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (12/10/2026). Bantahan ini muncul di tengah kekhawatiran publik soal melambatnya belanja rumah tangga, yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
"Yang terjadi itu bukan daya beli melemah. Nggak, sangat tidak betul. Yang terjadi adalah pergeseran pola konsumsi masyarakat yang sangat signifikan," kata Dradjad.
Menurut dia, ada dua bukti utama yang menguatkan penilaian pemerintah. "Pertama itu misalnya, adalah pertumbuhan di transportasi dan pertumbuhan terkait pariwisata," ujarnya.
Data BPS mencatat jumlah penumpang angkutan domestik pada Agustus 2026 naik 8,09 persen. Lonjakan tertinggi terjadi pada angkutan penyeberangan yang tumbuh 20,13 persen menjadi 4,66 juta penumpang. Pada bulan yang sama, pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) mencapai 104,30 juta perjalanan, meningkat 11,47 persen dibandingkan Agustus 2025.
"Transportasi itu tinggi sekali karena masyarakat kita rupanya sekarang banyak yang senang jalan-jalan, dan konsumsi jalan-jalan itu tinggi sekali. Restoran dan hotel juga. Turisme meningkat, pariwisata meningkat sekali," tutur Dradjad.
Selain sektor wisata, Dradjad menyoroti pesatnya pertumbuhan transaksi menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Bank Indonesia (BI) melaporkan transaksi QRIS tumbuh 67,22 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
"Kalau transaksi QRIS meningkat drastis, berarti memang banyak transaksi dan konsumsi," ucapnya.
Pola serupa, lanjut Dradjad, juga tampak pada belanja daring. Masyarakat kini tidak lagi hanya mengandalkan belanja secara luring, tetapi semakin banyak beralih ke platform digital. Meski demikian, baik Dradjad maupun Amalia tidak merinci angka terbaru pertumbuhan transaksi belanja daring tersebut.
"Pergeseran konsumsi ini tertangkap oleh BPS, sehingga kami dari pemerintah meyakini bahwa memang daya beli masyarakat itu sangat bagus," kata Dradjad.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti sependapat bahwa daya beli masyarakat sepanjang enam bulan pertama 2026 masih tergolong kuat. "Karena selama satu semester itu masih tumbuh di atas 5 persen konsumsi masyarakat," kata Amalia.
Berdasarkan data BPS, pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal I-2026 mencapai 5,52 persen secara tahunan, kemudian 5,06 persen pada kuartal II-2026. Secara kumulatif, konsumsi rumah tangga sepanjang semester I-2026 tumbuh 5,28 persen.
Amalia menjelaskan, konsumsi masyarakat kini lebih banyak dialokasikan untuk transportasi, restoran, dan hotel seiring perubahan gaya hidup. "Ini karena memang pola konsumsi masyarakat yang lebih pada mobilitas, traveling," ujarnya.
Secara kuartalan, sektor transportasi dan pergudangan sempat terkontraksi 1,49 persen pada kuartal I-2026, lalu pulih dan tumbuh 4,21 persen pada kuartal II-2026. Adapun sektor penyediaan akomodasi serta makan dan minum naik dari 3,91 persen menjadi 4,03 persen pada periode yang sama.
Namun, data tahunan menunjukkan gambaran berbeda. Pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan melambat dari 6,9 persen pada kuartal I-2026 menjadi 5,7 persen pada kuartal II-2026. Sektor restoran dan hotel juga turun dari 7,4 persen menjadi 6,5 persen secara tahunan.
Temuan Mandiri Spending Index turut mencatat sebagian besar kelompok pengeluaran rumah tangga sempat melambat selama semester I-2026. Belanja kelompok menengah ke bawah baru kembali menguat pada Agustus, bersamaan dengan penyaluran bantuan sosial dan stimulus ekonomi dari pemerintah.